Selasa, 17 Agustus 2010

Muara GUS MUS

MUARA » Catatan Kritis dan Analisis Aktual

Permainan Sepakbola
16 Juni 2010 17:02:26 | Share
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Cobalah Anda pikir agak tenang tanpa mengikutsertakan kesenangan Anda sendiri, mungkin Anda pun -- seperti orang yang tidak senang atau tidak paham sepak bola -- merasa geli melihat 22 orang dewasa –-sebelas lawan sebelas-- berlari-lari memperebutkan dengan serius sebuah benda bundar.
Kecuali dua orang yang bertindak menjaga gawang yang tidak banyak berlari; cukup mempertahankan dan menangkap bola bila bola mengarah ke gawangnya. (Berbeda dengan yang lainnya, kedua orang ini tidak mutlak dilarang memegang bola). Anehnya bila bola sudah terebut, langsung --atau dibawa sebentar kemudian-- disepak lagi untuk diperebutkan kembali. Sering kali, meski sudah ada wasit lapangan dan wasit-wasit garis yang memimpin pertandingan, orang-orang dewasa yang memperebutkan bola itu sampai berantem. Bila karena terlalu sengit berebut bola lalu terjadi tabrakan antar pemain dan wasit sudah menentukan bola diberikan kepada pihak tertentu, pihak ini pun malah menendangnya kembali. Bayangkan bila perebutan 11 x 11 orang dewasa ini tanpa wasit yang memimpin atau wasitnya seperti kebanyakan wasit negeri ini.
Sampai suatu saat, bila ada salah seorang di antara 22 orang itu yang berhasil menendang dan memasukkan bola ke gawang lawan yang dijaga mati-matian oleh penjaganya, semua --kecuali pihak yang kemasukan dan pendukung-pendukungnya– pun bersorak-sorai gembira. Kemudian bola pun ditaruh di tengah lagi untuk diperebutkan kembali. Begitulah permainan yang betul-betul permainan ini berlangsung cukup lama, resminya 2 x 45 menit, kecuali bila ada perpanjangan waktu. (Di Pensylvania Amerika Serikat, malah pernah ada pertandingan –antara dua kesebelasan dari Muhlenberg College-- sampai 48 jam nonstop, tanpa pemain pengganti). Seperti setiap permainan yang lain, dalam sepak bola ini pun harus ada yang menang. Yang menang adalah yang paling banyak memasukkan bola ke gawang lawan.

Sungguh absurd sebenarnya. Namun absurd tidak absurd, permainan sepak-menyepak bola yang konon cikal-bakalnya berasal dari permainan Tsu-chu Cina zaman dinasti Han, 3-4 abad sebelum Masehi itu adalah olah raga yang paling –atau setidaknya termasuk yang paling– digemari di dunia. Bahkan sejak distandardkan dengan pembentukan Football Association di Inggris tahun 1863 dan terbentuknya federasi sepak bola dunia (FIFA) tahun 1907, permainan ini bukan saja semakin meluas popularitasnya, perkembangannya pun terus semakin canggih. Bukan saja dari segi sistem dan teknik permainan, melainkan juga pengorganisasiannya terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Apalagi setelah bisnis dan kemajuannya –sebagaimana dalam banyak permainan yang lain-- ikut campur dalam menentukan kehadiran dan perkembangannya.

Seperti biasa dan seperti pada banyak hal, negara-negara maju yang memiliki kelebihan di hampir semua segi kehidupan, peranannya sangat besar bahkan menentukan dalam membawa permainan itu ke derajat ‘terhormat’ dan digilai hampir semua lapisan masyarakat dunia seperti sekarang ini. Jangankan sepak bola, permainan yang berbahaya dan sangat tidak manusiawi pun --paling tidak menurut sebagian kalangan– seperti tinju, di tangan mereka, bisa menjadi olah raga yang dicandui; sudah tentu setelah menjadi tambang fulus bagi mereka.

Memang mereka –orang-orang di negeri maju– itu, barangkali karena kelebihan mereka di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ditambah disiplin dan keseriusan mereka, bagi kita di negeri berkembang ini bagaikan tukang sihir saja laiknya. Kebalikan dari kita yang menggarap hal-hal penting seperti main-main saja, mereka bahkan permainan bisa disulap menjadi hal yang sangat serius dan penting. Seperti sepak bola itu misalnya, dengan kelihaian mereka mengemas dan menawarkannya, dunia pun dibuat keranjingan terhadapnya sesuai kemauan mereka. Negara-negara penggandrung sepak bola yang mereka nilai kaya dengan potensi sumberdaya pemain, mereka pacu dan support. Permainan sederhana, amatiran, dan bisa dimainkan dimana saja -- dengan pemain berapa saja, dengan pakaian apa saja (bahkan tanpa pakaian sekalipun), dan dengan bola apa saja (dengan bola gombal sekalipun) – itu mereka profesionalkan dan bisniskan dengan cara yang amat canggih. Dan dengan dukungan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, permainan sepak bola pun akhirnya menjadi ‘agenda dunia’ yang penting dan sangat merampas perhatian.

Termasuk kita disini, dimana sepak bola –seperti hal-hal yang lain, hanya sibuk dibicarakan dan dipertengkarkan-- pertandingan sepak bola manca negara merupakan ‘acara wajib’ yang ikut mengatur irama dan gaya hidup kita. Pers dengan semangat patriotisme, berlomba-lomba memberitakan dan menayangkan setiap pertandingan. Ulasan dan analisis sepak bola yang ndaqik-ndaqik pun memenuhi media massa. Jadwal pertandingan dan kompetisi mereka --hingga yang bersifat lokal-- pun kita catat. Gol-gol terbaik dalam setiap pertandingan, kita bukukan. Nama-nama pemain klub-klub disana – apalagi yang menjadi bintang (umumnya pemain yang paling banyak memasukkan bola ke gawang lawan, pemain yang paling pandai mempertahankan gawang, yang paling lihai membawa atau merebut bola)– kita hafal melebihi nama-nama para pemain klub-klub di tanah air sendiri. Siapa yang tak kenal Pele –konon dari rangkaian kata Portugis, Pe kependekan dari kaki dan le dari malas– alias Edison Arantes do Nascimento dari Brazil yang dijuluki Si Kaki emas dan sejak 7 September 1956 hingga 2 Oktober 1974 memasukkan bola 1216 gol? Siapa tidak kenal Libero Franz Beckenbauer dari Jerman Barat; Johan Cruyff dari Belanda; Diego Maradona dari Argentina; atau bomber Inter Milan asal Brazil, Ronaldo Luis Nazario. Bahkan banyak bayi lahir yang dinamai dengan nama-nama seperti Eka Maradona, Mohammad Maldini, Supele, Rosyat Baggio, dll.

Pendek kata, sepak bola sudah menjadi semacam virus yang membuat demam dunia. Lihatlah, betapa pers, termasuk di kita, sudah geger mempersiapkan diri menyambut World Cup 1998 yang masih akan digelar Juni-Juli mendatang. Rubrik-rubrik sudah diplot; pengulas-pengulas (di negeri ini pengulas sepak bola jauh lebih banyak dan lebih lihai katimbang pemain sepak bola) sudah mulai diincar atau dikontrak; tv-tv sudah mengiklankan jadwal-jadwal pertandingan; dsb. dst.

Itu semua tentu tidak lepas dari kelihaian para pencari materi (duit) yang tahu persis bagaimana memanfaatkan permainan yang menjadi kegemaran hampir semua orang itu. Mereka yang paling lihai, paling kreatif, dan paling serius, akan mendapat keuntungan paling banyak. Karena di zaman ini, sepak bola –sebagaimana banyak permainan yang lain– tidak hanya merupakan olah raga atau apalagi permainan pengisi waktu senggang. Sepak bola di zaman ini sudah pula berarti bisnis; gengsi; entertainment; dlsb.

Kecuali mereka yang memang tidak suka dan tidak paham sepak bola, kiranya tak ada lagi orang yang merasa geli melihat 22 orang dewasa berlari-lari berebut bola untuk ditendang kembali setelah berhasil merebutnya. Sedangkan melihat mereka yang membahas, mengkalkulasi, menyeminarkan, bahkan mendirikan sekolah untuk itu pun, rasanya tak ada yang merasa aneh dan geli.

Tapi itulah hidup. Hidup tak lebih dari permainan, seperti permainan sepak bola itu. Orang berlari-lari, berebut sesuatu yang sepele untuk kemudian dilepas dan dikejar-kejar lagi. Mereka yang mengejar dan berebut harta misalnya, setelah berhasil mendapatkannya, ada yang dilepas secara sukarela, ada terpaksa dilepaskannya. Demikian pula mereka yang mengejar dan berebut kursi atau kekuasaan.
Untuk merebut, kalau perlu menyikut, menendang, dan menginjak saudara sendiri. Yang gede menggunakan ke-gede-annya; yang mempunyai kepintaran menggunakan kepintarannya; yang kuat memanfaatkan kekuatannya; dan sebagainya dan seterusnya. Karena itu, sebagaimana dalam permainan sepak bola juga, aturan dan ketaatan terhadap aturan permainanlah yang paling menentukan enak atau tidaknya permainan itu dimainkan dan ditonton. Sebaliknya ke-tiadaan-aturan atau ketiadaan ketaatan terhadap aturan-lah yang membuat rusak permainan. Apalagi apabila penyelenggara dan pimpinan permainan sendiri sudah tidak mempunyai itikad untuk menegakkan aturannya.

Wallahu a’lam.

RUANG Gus mus

TUNAS » Kiprah Pemuda

Pengkaderan Tunas Muda NU Yang Mengkhawatirkan (Sebuah Usulan Untuk Muktamar NU)
16 Februari 2010 00:38:20 | Share

Muktamar NU yang akan berlangsung Maret 2010 sudah mulai meramaikan media massa. Sayangnya wacana yang beredar hanya sekitar persoalan kandidat ketua umum PBNU. Jarang yang mengangkat wacana seputar pengkaderan tunas muda NU yang semakin mengkhawatirkan.

Seputar pengkaderan NU, pernah timbul polemik antara di website resmi NU Online antara Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan Ketua Umum PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) M. Rodli Kaelani. Ketika membuka Kongres IPNU-IPPNU yang tengah berlangsung di Pesantren Al Hikmah Brebes, KH Hasyim Muzadi mengeluhkan peranan PMII yang melupakan pengkaderan NU di sektor mahasiswa karena terlalu aktif berpolitik di luar kampus dan bahkan sebagian aktivis PMII terpengaruh paham liberalisme agama. Hasyim menyarankan agar IPNU-IPPNU juga turut memperhatikan pengkaderan mahasiswa tanpa melupakan pengkaderan pelajar dan santri.

Rodli Kaelani pun membantah sinyalemen Hasyim bahwa PMII melupakan pengkaderan NU di sektor mahasiswa. Menurutnya PMII tidak pernah melupakan “raison d’etre”-nya sebagai organisasi mahasiswa sayap NU walaupun telah independen secara struktural dari NU.

Polemik di atas pun hanyalah bagaikan fenomena “gunung es” dari sekian banyak problematika di NU, ormas Islam terbesar di Indonesia dan dunia yang kini makin tidak “marketable” setelah outlet-outlet politiknya seperti PKB dan PKNU hancur lebur dalam Pemilu 2009.

NU kini tidak bisa lagi membanggakan “outlet” politiknya seperti PKB yang hanya meraih 4,9% suara. Namun, untuk kembali pada khittahnya sebagai pemilik “outlet” sosial-keagamaan-pendidikan, NU juga tidak percaya diri. Masyarakat dan pasar lebih mengenal Aa Gym, Ustadz Jeffry dan dai TV lainnya sebagai tokoh-tokoh yang punya “outlet” agama daripada tokoh-tokoh NU. Sementara itu “outlet” pendidikan NU seperti pesantren pun tidak lagi populer. Masyarakat lebih memilih antre mendaftarkan anaknya di sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah internasional dan sekolah swasta favorit.

Ketika “outlet” dan “produk” politik yang dikeluarkan NU tidak diterima pasar (Baca: tidak laku dijual), mungkin ada baiknya kita melihat apakah para “sales”, “manajer” dan “desainer” yang selama ini merancang “produk”, menjaga “outlet” dan memasarkan “produk” politik keluaran NU sudah menjalankan kinerjanya dengan optimal ataukah memang para desainer, manajer dan sales itu tidak kompeten?

Tidak hanya di politik, banyak kader muda NU yang tidak kompeten di berbagai sector utamanya bisnis dan birokrasi.. NU –melalui IPNU dan PMII- harus bergerilya di sekolah, pesantren dan kampus untuk mencari “elit breeds” (bibit unggul) yang kompetem. Oleh karena itu, IPNU dan PMII harus benar-benar fokus dalam perannya sebagai ujung tombak pengkaderan NU.

Bila IPNU dan PMII berperan sebagai “talent scouting” (pencari bakat), maka IPNU dan PMII perlu sadar bahwa mereka harus fokus dalam target dan sasaran ketika merekrut para pelajar dan mahasiswa. Implementasi teknisnya, IPNU dan PMII perlu fokus dalam menyasar sekolah, pesantren dan kampus yang menjadi sasaran perekrutan anggota.


Road Map Pengkaderan IPNU-IPPNU dan PMII

Pertama, untuk merekrut anggota dari pesantren/madrasah, IPNU harus menentukan pesantren/madrasah yang potensial. Pengertian potensial di sini adalah ratio santri yang melanjutkan kuliah dengan keseluruhan santri. Bila pesantren/ madrasah tersebut ratio santri yang kuliahnya rendah maka pesantren/madrasah tersebut jelas bukan sasaran utama. Mengapa? Karena, bila santri tersebut tidak melanjutkan kuliah –karena keterbatasan finansial atau akademis- maka santri tersebut tidak bisa dikembangkan potensinya untuk menjadi kader karena selulus pesantren/madrasah ia akan lebih fokus mencari kerja atau berwirausaha.

Kedua, untuk merekrut anggota dari sekolah, IPNU juga harus menentukan sekolah yang potensial. SMA-SMA negeri di kota-kota besar haruslah menjadi target IPNU. Mengapa SMA negeri? Karena –lagi-lagi- ratio pelajar SMA negeri yang melanjutkan kuliah cukup tinggi dan bahkan lulusan SMA negeri mampu diterima di PTN favorit. Misalnya, para pelajar SMA 8 Jakarta bagaikan “naik kelas” saja di UI. Begitu pula dengan SMA 3 Bandung yang “naik kelas” di ITB dan SMA 1 Yogyakarta yang “naik kelas” di UGM.

Ketiga, IPNU dan PMII harus melakukan semacam “MoU” agar kader IPNU yang masuk perguruan tinggi dapat –dan harus- menjadi anggota PMII sebagai kelanjutan kaderisasi ke-NU-an. Bila ada kader IPNU yang “nyasar” di kampus dengan menjadi anggota organisasi ekstra non-PMII, maka para pengurus IPNU harus mengingatkannya. Namun, memang untuk kondisi kekinian mengingat status independensi PMII terhadap NU, maka sebaiknya perlu komitmen ulang dari PMII untuk tetap “on the right track” pada rel NU bahkan kalau perlu PMII kembali pada NU secara struktural dan kultural. Toh, atmosfer politik otoritarianisme Orde Baru yang melatarbelakangi independensi PMII dari NU sudah tidak ada lagi.

Keempat, PMII –sebagaimana IPNU- juga harus fokus pada kampus-kampus tertentu. Bila selama ini, PMII tumbuh subur di kampus-kampus agama seperti UIN, IAIN, STAIN dan STAI swasta, maka sudah saatnya PMII melakukan “ekspansi pasar” ke kampus-kampus umum terutama UI, ITB dan UGM mengingat tiga PTN inilah yang berhasil meraih peringkat dalam survey universitas terbaik sedunia versi Times Higher Education tahun 2008 dimana UI berada di rangking 287, ITB di urutan 315 dan UGM di rangking 316. PMII harus fokus dan mengerahkan segenap sumberdayanya “at all cost” untuk merekrut kader dari UI, ITB dan UGM dan PTN lainnya karena tidak bisa dipungkiri di tiga PTN tersebut berkumpul “elit breeds” yang akan mengisi sektor strategis di bisnis/swasta, pemerintahan/ birokrasi dan political & civil society. (alf)