Jumat, 09 April 2010

BANGUN DARI KETIDAKSADARAN

Catatan Hanif Asmoro: 

Bangun dari ketidaksadaran

Wahai juwita malam...
Kau kini telah memberikan cintamu kepada sang pangeranmu yg kau cintai dan mencintaimu
Dan kau akan mendapatkan kesenangan di tempat-tempat yg tersembunyi dan kebahagiaan didalam rahasia-rahasia cinta itu sendiri...
Aku memang lelaki malang...
Aku bangun dari ketidaksadaranku bahwa aku tidak mampu menyentuh jiwamu dengan bara api cintaku yang menyala-nyala.
Aku sadar tak mampu membangkitkan rohmu dengan nyanyia-nyanyian sedih kemiskinanku...
Akulah memang lelaki malang...
aku hidup dan mendendangkan nyanyian dan hidup bersama nyanyian dalam bayang-banyang kemiskinan,
berdendang yang menggemakan aib dari ketololanku...
Akulah memang lelaki malang...
Kau yang aku cintai...burung cantik yang kuberi makan dengan biji-bijian jiwaku
dan kuberi minum cahaya mataku....kepada siapa tulang-tulangku kujadikan rumah..?
dan kekuatan bathinku kujadikan sarangnya....
Kini kau telah pergi...
Terbang meninggalkanku kesarang yang lain...sarang yang lebih empuk dan lebih nyaman...
Tidak seperti sarang yang kupersembahkan..
sarang yang dianyam dari ranting-ranting berduri...
makan makanan tumbuhan berduri...
dan tempayak yang dicuci dengan racun yang pahit...
tidak seperti sarang yang kini kau singgahi....
sarang yang penuh kemegahan...kau akan dijadikan ratu di istananya yang indah beserta seluruh pelayannya...
kau didandani dengansutera dan menghiasi kepalamu lehermu dan tanganmu dengan perhiasan dan batu mulia yang sangat mahal...
kaupun akan selalu tersenyum penuh kebanggaan dan kemegahan...serta kemenangan...
Sementara aku lelaki yang malang...
telahpun cukup merasakan kepedihan dan penderitaan...
Wahai Padma kinasih....!!
bertahun-tahun aku telah tertindas oleh nyanyianku sendiri, tersiksa oleh nada-nadanya...
menangis dengan alunannya....pedih oleh syair-syairnya...
Dan Wahai kau yang aku cintai....kini
Kau menjadi semacam nyanyian kebisuan yang terpancar dari si yatim piatu yang merindukan arwah sang ibu di surga...
kerinduanku berubah menjadi penderitaan bisu yang tak dapat melihat apapun kecuali penderitaan itu sendiri...
asmara yang telah meneteskan air mata kini menjadi kebingungan yang meneteskan darah dari hatiku....Rintihan kerinduanku telah menjadi doa yang terus mengalir untuk kebahagiaanmu...
namun semua harapan dan doa-doaku ternyata sia-sia sebab kesedihan adalah penyakit jiwa yangtidak bisa disembuhkan dengan apapun kecuali oleh...KEMATIAN......
Aku tak mampu melihat apa yang ada dibalik sesuatu hingga
kau masih tetap tinggal dalam rumah hatiku...?