Minggu, 09 Mei 2010

Kajian ihwan santri

Definisi

Dalam KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata patuh’secara etimologi berarti taat, setia, saleh dan penurut. Artinya hamba saleh ialah hamba yang melakukan segala perintah Tuhan dan menjahui larangan-larangan-Nya.Sementara takwa merupakan motivator dari taat,sebab secara bahasa memiliki arti keinsyafan melaksanakan perintah Allah dan menjahui segala laranganya. Adapun hormat’dalam prespekif KBBI ialah perbuatan yang mencerminkan menghargai lebih terhadap seseorang. Taat ataupun hormat bukan hanya terkait hubunagan secara vertikal namun juga horizontal. Benang merah antara kedua kata di atas, patuh atau sopan merupakan salah satu karakteristk insan saleh, bahkan ciri paling prinsipil,sehingga santri misalnya, yang sering bertindak semaunya sendiri dan melakukan pelanggaran-pelanggaran tidak laik disebut sebagai santri saleh.

Taraf Etika lebih dikedepankan dari pada ketaatan, demikian menurut pendapat para ulama. Seorang murid atau santri alangkah baiknya menolak mana kala, guru atau kiai mengajak makan bersama dalam satu wadah, mungkin ini di antara aplikasi dari makalah ulama di atas. Statemen tersebut memberi indikasi kepatuhan bukanlah hal mutlak yang harus dilakoni oleh seorang santri atau bawahan terhadap atasanya.Ada bendera di atas ketaatan yang harus lebih diprioritaskan, yaitu etika atau penghormatan
>Perintis aliran ahli sunnah wal jamaah, Imam al-Asy’ari dalam pejalanan hidupnya, selama empat puluh tahun mengikuti dan taat terhadap ajaran gurunya al-Jubba’i. Namun perbedaan pendapat yang berlangsung hanya sebentar, mengubah keyakinanya dan berakhir pada pembelotan terhadap ajaran gurunya sendiri.

Al-Asy’ari: “Bagaimana kadudukan ketiga orang berikut; mukmin, kafir, dan anak kecil di akhirat?
Al-Jubba’i: “Yang mukmin mendapat tingkat baik dalam surga, yang kafir masuk neraka, dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.”
Al-Asya’ari: “Kalau anak kecil memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu?”
Al-Jubba’i: “Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu, karena kepatuhanya kepada Tuhan, yang kecil belum mempunyai kepatuhan yang serupa itu.”
Al-Asy’ari: “Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan: “Itu bukanlah salahku, sekiranya engkau bolehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orng mukmin itu.”
Al-Jubba’i: “Allah akan menjawab : “Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai pada umur tanggung jawab”
Al- Asy’ari: “Sekiranya yang kafir mengatakan: ”Engkau ketahui masa depanku sebagaimana ketahui masa depannya. Apa sebab engkau tidak jaga kepentinganku?”
Di sini al-Jubba’i terpaksa diam. Akhir cerita, Imam Abu Hasan al-Asy’ari keluar dari aliran gurunya membentuk kelompok teologi bernama “Ahli Sunnah Wal Jamaah. Meskipun demikian apakah lantas beliau tidak lagi hormat pada gurunya?. Bagaimanapun al-Asy’ari masih tetap menjunjung tinggi posisi al-Jubba’i sebagai orang yang berjasa mendidik dan membantu beliau menemukan keyakinan yang dianggap benar.
Kalau ketaatan merupakan sesuatu yang dapat ditawar, di sisi lain, hormat merupakan perbuatan yang esensial, dengan alasan apapun seorang anak harus hormat kepada kedua orang tua, santri wajib andap ashor pada kiai. Pola pikir berbeda atau keyakinan yang dianggap benar, mungkin dapat menjadi alasan keluar dari kepatuhan, atau ketaatan terhadap orang tua boleh dilanggar demi mematuhi perintah Tuhan “La tha’ata li makhluqin fi ma’shiyatillah”. Namun dalam ranah etika, kesopanan tidak mengenal pengkotak-kotakan. Bahkan sekat ideologi tidak mampu menghapus kewajiban hormat kepada orang tua, sebagaimana kisah Asma’, putri Abu Bakar as-Shidiq. Konon ibunya Asma’ adalah wanita musyrikah, pada saat istri Abu Bakar itu menjenguk putrinya, Asma’ bergegas meminta fatwa pada Rasul Saw. “Telah datang ke sini ibuku ya Rasul, padahal beliau amat benci agama Islam, apakah jalinan kekerabatanku dengan beliau tetap aku sambung?” Rasul menjawab, “Sambunglah iibumu.”
Melihat pendapat para ulama ”al- Akhlaqu muqaddamun ‘ala at-tha’at” mengesankan ada sebuah perbedaan secara mutlak antara kesopanan dan kepatuhan. Namun kalau ditilik kembali tentang definisi kesopanan di atas, akan ditemukan sekelumit kesinambungan di antara keduanya, yaitu kepatuhan merupakan salah satu manifestasi dari sebuah penghormatan. Dalam ranah akademisi kepesantrenan misalnya, sering kali didapati seorang murid lebih tua usianya dari usia gurunya. Akan tetapi sebab motivasi penghormatan kepada seorang ustadz, sang murid berkenan untuk melakukan segala perintahnaya, meski kadang kurang rasional.

Realita sosial
Ras, kekayaan, jabatan, kecantikan, intelektual dalam masyarakat dunia dijadikan sebagai tolak ukur kemuliaan seorang manusia. Sehingga menurut pandangan umum antara pejabat dengan masyarakat sipil, tentunya lebih mulia seorang pejabat, contoh lain, di Amerika kedudukan orang kulit putih dianggap lebih tinggi dari yang berkulit hitam dan sebagainya. Berbeda dengan pandangan Tuhan mengenai posisi seorang manusia, menurut pandangan Allah manusia yang paling mulia di sisinya adalah mereka yang paling takut pada-Nya, sebagai mana firman-Nya ”Innama akramakum ‘inda allahi atqakum”. Baginya tidak ada pengaruh antara si kaya dengan si miskin, cantik dengan jelek, pejabat dengan rakyat jelata. Bahkan Allah menagajarkan kepada kita untuk tetap hormat pada orang yang derajatnya lebih rendah dari kita, sebagaimana dalam cerita Adam dengan Iblis, saat itu Allah memerintahkan iblis untuk bersujud kepada Adam, “Wahai para malaikat bersujudlah kalian semua (termasuk iblis) pada adam, sebagai simbol penghormatan padanya”. Padahal menurut pandangan Iblis, dirinya lebih unggul dari pada Adam, sehingga ia pun menolak perintah Allah dengan mengatakan, “Tuhan, engkau menciptakan aku dari api sementara adam dari tanah (kenapa engkau suruh aku sujud padanya).”

Kesimpulan       
Secara umum sebuah penghormatan lebih mulia dari pada ketaatan, meskipun begitu banyak masyarakat kita belum dapat merealisasikan secara benar. Karena dari rasa hormat akan lahir jiwa patuh/taat. Walhasil, mari tumbuh-kembangkan rasa hormat baik kepada yang tua atau muda, seagama atau lain agama, sebagai pencitraan Islam yang rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lam.

* Penulis adalah Siswa Kelas III Tsanawiyah MHM